Thursday, August 20, 2009

LISAN ANDA PADA BULAN RAMADHAN

            Lisan Anda punya ibadah khusus pada bulan Ramadhan. Sebagaian berupa dzikir, dan sebagian lagi berupa diam. Diam itu sendiri adalah satu pengertian “shaum” sebagaimana dikatakan oleh Maryam “ sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Ar-Rahman, maka aku akan tidak berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini ( Lihat : Maryam : 26 )          

            Shaum Maryam yang disebutkan diatas berupa diam dan tidak berbicara. Adapun shaum yang dituntut shaum kita saat ini adalah menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal berdosa serta menjaga agar jangan sampai kita mengucapkan sesuatu yang tercela. 

            Berucap dan berbicara memang memiliki beberapa cela antara lain menggunjing ( ghibah) , mengadu domba ( namimah), berdusta, mencela, mencerca, berkata palsu, mempermainkan kehormatan orang dan merendahkan martabat seseorang . 

            Jika seseorang shaum tidak bisa menjaga lidahnya dari penyakit-penyakit yang diharamkan, lantas apa gunanya ia shaum ? apakah mungkin taqwa yang didambakan sebagai ujung shaum itu akan tercapai dengan kondisi semacam itu ? Salah satu penyakit lidah saja misalnya yaitu berkata palsu, sudah bisa menghempaskan spirit shaum dan menghilangkan keindahannya. 

            Karena itu Rasulullah Saw, melarang perusakan tembok shaum dengan penyakit-penyakit tersebut, sehingga dengan demikian shaum itu tidak lagi akan berperan sebagai perisai atau pelindung , Beliau bersabda :   Shaum itu adalah perisai, maka jika seseorang di antara kalian itu tengah shaum , janganlah ia berkata kotor di waktu itu ataupun berucap gaduh. Lalu jika ada seseorang mencela atau melawannya, maka hendaklah ia mengatakan aku sedang bershaum. ( HR. Muslim ) 

            Ibnul Jauzi mengatakan, berapa banyak orang shaum menahan dari lapar dan dahaga namun ia berbuka dengan aneka perkataan ? berapa banyak orang yang melaksanakan sholat malam tetapi ia gemar menganiaya orang lain ? orang seperti ini telah berdosa atas lisan dan tindakannya, serta tidak mendapat pahala atas shaum dan sholat malamnya. 

            Ramadhan adalah hari-hari yang terbatas, maka agungkanlah ia dan manfaatkan momen-momennya. Pagarilah ia dari pedang lidah dan panah kata-kata, baik dalam kondisi serius maupun bercanda, serta dalam kondisi suka maupun marah. 

            Saudaraku yang sedang shaum, sungguh ramadhan merupakan kesempatan bagi manusia untuk melatih lisan menekuni peribadatan. Lisan punya bentuk peribadatan khusus, yang berkisar antara pelaksanaan hal-hal fardhu, wajib dan sunnah serta antara peninggalan atas hal-hal yang haram dan makruh. 

            Persoalan lisan tidaklah sama dengan persoalan organ tubuh lainnya. Sebab itu, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ketika seseorang manusia itu bangkit diwaktu pagi, seluruh anggota badannya itu memperingatkan dan mengancam sang lidah. Mereka serentak berkata “ Takutlah kamu wahai lidah kepada Allah. Sebab kami ini ikut bersamamu. Jika kamu lurus, maka kamipun ikut lurus dan jika kamu bengkok, maka kami pun akan bengkok. ( HR At-Turmudzi dan Ahmad ) 

            “ Yaa Allah, lepaskan lisan kami untuk focus berdzikir dan bersyukur kepada-MU, serta untuk mendakwahkan agama-MU. Cegahlah ia agar tidak mengikuti hal-hal yang menghinakan kami serta juga dari hal-hal yang tidak berguna bagi kami. Amin… ( Sumber : Ramadhan sepenuh hati , Dr.Abdul Aziz Kamil ) 

                                               ==========================

Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.

Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari). Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.


No comments:

Post a Comment